---
title: "Pembukuan Sederhana untuk Bisnis Online"
description: "Penjualan dari marketplace, transfer, dan QRIS bercampur di satu rekening? Ini cara menyusun pembukuan sederhana, siap dipakai hitung laba dan pajak."
url: "https://nivelva.com/insight/pembukuan-sederhana-bisnis-online"
category: "Bisnis Digital"
tags: ["pembukuan umkm","laporan keuangan sederhana","bisnis online","laba rugi","catatan omzet"]
author: "Theresia Candiawan"
published: "2026-11-07T09:13:00+07:00"
updated: "2026-11-07T09:13:00+07:00"
language: "id"
publisher: "Nivelva (https://nivelva.com)"
---

# Pembukuan Sederhana untuk Bisnis Online

> **Jawaban singkat:** Pembukuan sederhana bisnis online cukup dengan empat kebiasaan: pisahkan rekening pribadi dan usaha, catat setiap penjualan per kanal dengan potongan biayanya, catat semua pengeluaran dengan bukti, lalu tutup buku bulanan berupa laporan omzet, laba, dan kas.

Tanggal satu, saldo rekening terlihat lebih besar dari bulan lalu. Rasanya usaha sedang bagus. Lalu kamu ingat ada pencairan dana marketplace yang tertunda, uang belanja stok yang dibayar pakai kartu pribadi, dan dua pesanan yang direfund minggu lalu. Tiba-tiba kamu tidak yakin apakah bulan ini benar-benar untung.

Situasi seperti ini sangat umum di bisnis online, karena uang masuk dari banyak pintu dan potongannya tersembunyi di laporan masing-masing platform. Pembukuan sederhana bukan soal menjadi akuntan. Tujuannya satu: setiap akhir bulan kamu tahu berapa omzet, berapa laba, dan ke mana uangnya pergi.

## Pisahkan uang usaha dan uang pribadi lebih dulu

Langkah ini terdengar membosankan, tapi hampir semua masalah pembukuan berawal dari rekening yang bercampur. Buka satu rekening khusus usaha, lalu arahkan semua pencairan marketplace, payment gateway, dan QRIS ke sana. Bayar stok, ongkir, iklan, dan langganan aplikasi dari rekening yang sama.

Untuk kebutuhan pribadi, jangan ambil uang usaha secara acak. Tetapkan "gaji" untuk dirimu sendiri dan pindahkan dalam jumlah tetap setiap bulan. Pemindahan itu dicatat sebagai pengambilan pemilik, bukan biaya usaha. Dengan cara ini, saldo rekening usaha mulai bisa dibaca sebagai kondisi usaha yang sebenarnya.

Kalau sesekali terpaksa membayar keperluan usaha dari dompet pribadi, catat dan ganti dari rekening usaha di minggu yang sama. Kebiasaan kecil ini mencegah selisih yang menumpuk sampai akhir tahun.

## Catat penjualan per kanal, lengkap dengan potongannya

Kesalahan umum penjual online adalah mencatat dana yang cair sebagai omzet. Padahal, dana cair dari marketplace sudah dipotong biaya administrasi, biaya layanan, ongkir yang ditanggung penjual, voucher, dan kadang biaya iklan. Payment gateway juga memotong biaya per transaksi. QRIS dikenai MDR sesuai kategori merchant dan nilai transaksi; per 4 November 2026, Bank Indonesia menetapkan MDR 0% untuk transaksi sampai Rp100.000 di semua kategori merchant dan sampai Rp500.000 untuk usaha mikro, sejak 1 Oktober 2026. Di atas batas itu, potongannya tetap perlu dicatat.

Cara yang lebih rapi adalah mencatat tiga angka untuk setiap penjualan atau setiap rekap harian: nilai penjualan kotor, potongan platform, dan dana bersih yang diterima. Omzet adalah angka kotor. Potongan dicatat sebagai biaya. Selisihnya harus sama dengan dana yang masuk ke rekening.

Gunakan satu tabel catatan untuk semua kanal, dengan kolom yang seragam. Contohnya seperti ini.

| Tanggal | Kanal | No. pesanan | Penjualan kotor | Potongan platform | Diskon/voucher penjual | Refund | Dana bersih | Status cair |
|:--|:--|:--|:--|:--|:--|:--|:--|:--|
| 03/11 | Marketplace A | 1234 | 250.000 | 20.000 | 10.000 | 0 | 220.000 | Sudah |
| 03/11 | Website (gateway) | W-88 | 180.000 | 4.000 | 0 | 0 | 176.000 | Belum |
| 04/11 | QRIS toko | - | 75.000 | 0 | 0 | 0 | 75.000 | Sudah |
| 05/11 | Marketplace A | 1240 | 120.000 | 0 | 0 | 120.000 | 0 | Batal |

Angka di atas hanya ilustrasi untuk menunjukkan susunan kolom. Kolom status cair penting karena marketplace sering mencairkan dana beberapa hari setelah pesanan selesai. Tanpa kolom ini, kamu bisa mengira uang sudah masuk padahal belum.

Untuk marketplace, ambil laporan penghasilan atau laporan penarikan dana dari dasbor penjual setiap minggu, bukan hanya melihat notifikasi. Laporan ini biasanya merinci potongan per pesanan, sehingga kamu tidak perlu menebak.

## Refund, retur, dan ongkir yang sering terlupa

Refund mengurangi penjualan, bukan menambah biaya. Kalau pesanan yang sudah kamu catat sebagai omzet kemudian dibatalkan, buat baris koreksi di bulan refund terjadi. Jangan hapus baris lama, supaya jejaknya tetap ada.

Retur barang punya dua sisi: uang yang dikembalikan dan barang yang kembali ke stok. Kalau barangnya rusak dan tidak bisa dijual lagi, nilai barang itu menjadi kerugian. Ongkir retur yang ditanggung penjual juga dicatat sebagai biaya.

Ongkir adalah sumber selisih lain. Ada ongkir yang dibayar pembeli lalu diteruskan ke kurir, ada subsidi ongkir yang ditanggung penjual, dan ada program gratis ongkir yang biayanya dipotong dari penjualan. Pilih satu cara pencatatan dan pakai secara konsisten.

## Tutup buku setiap bulan

Di awal bulan, sisihkan satu sampai dua jam untuk menutup bulan sebelumnya. Cocokkan total dana bersih di catatan penjualan dengan mutasi rekening usaha. Selisih kecil biasanya berasal dari dana yang belum cair atau biaya bank.

Setelah cocok, susun laporan satu halaman berisi:

- **Omzet kotor** per kanal, yang juga menjadi dasar perhitungan pajak bila kamu memakai skema final berbasis omzet.
- **Harga pokok penjualan**, yaitu modal barang yang terjual bulan itu.
- **Biaya platform dan pembayaran**, dari kolom potongan.
- **Biaya operasional**, seperti iklan, kemasan, ongkir yang ditanggung, gaji, dan aplikasi.
- **Laba bersih**, yaitu omzet dikurangi semua komponen di atas.
- **Saldo kas akhir bulan** dan dana yang masih tertahan di marketplace.

Laporan ini menjawab pertanyaan yang tadi membuat bingung: apakah bulan ini benar-benar untung. Dari sini kamu juga bisa melihat kanal mana yang paling banyak memotong margin, sehingga keputusan seperti menaikkan harga di satu marketplace jadi berbasis data.

## Simpan catatan yang siap untuk pajak

Bila kamu memakai PPh Final UMKM, yang paling dibutuhkan adalah omzet bulanan yang bisa dibuktikan. Untuk orang pribadi, catatan ini juga yang menunjukkan kapan omzet kumulatifmu melewati Rp500 juta dalam setahun. Penjelasan lengkapnya ada di [PPh Final 0,5% UMKM](https://nivelva.com/insight/pph-final-umkm-setengah-persen).

Simpan bukti dalam satu folder per bulan: laporan penghasilan marketplace, mutasi rekening, nota pembelian stok, dan invoice biaya. Beri nama file yang konsisten, misalnya tanggal dan jenis dokumen. Kalau suatu hari ada pertanyaan dari kantor pajak atau mitra pembiayaan, kamu tinggal membuka folder bulan yang diminta.

Ketika transaksi sudah ratusan per bulan, spreadsheet mulai melelahkan. Saat itulah aplikasi pembukuan atau ERP sederhana mulai masuk akal, karena bisa menarik data penjualan, stok, dan pembayaran ke satu tempat. Gambaran pilihannya ada di [Odoo untuk UMKM](https://nivelva.com/insight/odoo-untuk-umkm), dan kalau kamu ingin rekap penjualan terkirim otomatis setiap pagi, lihat [laporan penjualan harian otomatis dengan n8n](https://nivelva.com/insight/otomasi-laporan-penjualan-n8n).

Pembukuan sederhana pada dasarnya adalah kebiasaan: rekening terpisah, catatan penjualan dengan potongannya, dan tutup buku bulanan. Mulai dari spreadsheet pun cukup, asalkan kolomnya konsisten dan dicocokkan dengan rekening setiap bulan. Dari kebiasaan itu, angka laba yang kamu lihat akhirnya bisa dipercaya.

## Sumber

- <https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/Pages/sp_2815926.aspx>
- <https://www.pajak.go.id/en/node/119950>

---

Diterbitkan oleh Nivelva Insight (https://nivelva.com/insight/). Artikel ini: https://nivelva.com/insight/pembukuan-sederhana-bisnis-online
Kontak Nivelva: WhatsApp https://wa.me/6285111245007, email hello@nivelva.com
