Apa Itu ROAS dan Berapa Angka yang Dianggap Sehat?
Pengertian ROAS, rumus menghitungnya, cara menentukan ROAS impas dari margin produkmu, serta bedanya dengan ROI dan CPA untuk menilai iklan.
Jawaban singkat
ROAS adalah pendapatan dari iklan dibagi biaya iklan. Tidak ada satu angka sehat untuk semua bisnis, karena batasnya ditentukan margin. ROAS impas dihitung dengan 1 dibagi persentase margin kotor, misalnya margin 40% berarti ROAS impas 2,5. ROAS sehat adalah yang di atas angka impas itu.
Daftar isi
ROAS (return on ad spend) adalah perbandingan antara pendapatan yang dihasilkan iklan dan biaya iklan yang dikeluarkan. Rumusnya: pendapatan dari iklan dibagi biaya iklan. Kalau kamu membelanjakan Rp1.000.000 untuk iklan dan iklan itu menghasilkan penjualan Rp4.000.000, ROAS-nya 4 (sering ditulis 4x atau 400%).
Yang dipertaruhkan saat salah membaca ROAS cukup besar. ROAS 3 bisa berarti untung bagi satu toko dan rugi bagi toko lain. Pemilik usaha yang mengejar "ROAS bagus" menurut patokan orang lain bisa terus beriklan sambil merugi tanpa sadar, atau sebaliknya mematikan iklan yang sebenarnya menguntungkan.
Berapa ROAS yang dianggap sehat?
Jawaban jujurnya: tergantung margin produkmu. Angka patokan yang beredar di internet sering tidak menyebutkan jenis bisnis, margin, atau cara menghitungnya, sehingga kurang berguna sebagai target. Yang jauh lebih berguna adalah menghitung ROAS impas milikmu sendiri.
Cara menghitung ROAS impas
ROAS impas (break-even ROAS) adalah titik ketika laba kotor dari penjualan iklan persis habis untuk membayar iklan. Rumusnya:
ROAS impas = 1 ÷ margin kotor (dalam desimal)
Margin kotor di sini adalah harga jual dikurangi HPP, ongkir yang kamu tanggung, potongan platform, dan biaya lain per pesanan, lalu dibagi harga jual. Contoh:
- Harga jual Rp200.000, total biaya per pesanan (HPP, kemasan, potongan, ongkir) Rp120.000.
- Margin kotor = (200.000 - 120.000) ÷ 200.000 = 0,4 atau 40%.
- ROAS impas = 1 ÷ 0,4 = 2,5.
Artinya, setiap Rp1 iklan harus menghasilkan minimal Rp2,5 penjualan agar tidak rugi. ROAS di bawah 2,5 berarti iklan merugi, di atas 2,5 berarti iklan menyisakan laba. Angka di contoh ini ilustrasi; hitung dengan biaya nyata tokomu. Kalau belum punya angka HPP yang rapi, mulai dari cara menghitung HPP produk jualan online.
Dari impas ke target
ROAS impas belum memperhitungkan biaya tetap seperti gaji, sewa, dan alat kerja. Karena itu, target ROAS biasanya dipasang di atas angka impas agar ada sisa untuk biaya tetap dan laba bersih. Seberapa jauh di atasnya, tergantung kebutuhan usahamu.
Tabel berikut menunjukkan hubungan margin dan ROAS impas:
| Margin kotor | ROAS impas | Gambaran |
|---|---|---|
| 20% | 5,0 | Margin tipis, iklan harus sangat efisien |
| 30% | 3,3 | Masih ketat |
| 40% | 2,5 | Ruang cukup untuk iklan |
| 50% | 2,0 | Ruang lebih lega |
| 70% | 1,4 | Umum pada produk digital atau jasa |
Terlihat jelas kenapa angka "ROAS sehat" berbeda-beda. Toko dengan margin 20% butuh ROAS di atas 5 hanya untuk impas, sedangkan produk dengan margin 70% sudah untung di atas 1,4. Inilah alasan dua pemilik toko bisa sama-sama mengaku "ROAS-ku 3" padahal yang satu untung dan yang lain rugi. Sebelum membandingkan angka dengan orang lain, tanyakan dulu berapa margin mereka dan bagaimana mereka menghitung pendapatan iklannya.
Apa bedanya ROAS, ROI, dan CPA?
Ketiganya sering tertukar, padahal mengukur hal berbeda.
ROAS
Melihat pendapatan kotor dibanding biaya iklan saja. Mudah dihitung dan tersedia langsung di dasbor iklan, tetapi tidak memperhitungkan biaya produk. ROAS tinggi belum tentu untung bila marginnya tipis.
ROI
Return on investment melihat laba (bukan pendapatan) dibanding seluruh biaya yang diinvestasikan. Rumus sederhananya: (pendapatan - total biaya) ÷ total biaya, dengan total biaya mencakup iklan, produk, dan biaya lain. ROI lebih dekat ke pertanyaan "apakah ini menguntungkan?", tetapi butuh data biaya yang lebih lengkap.
CPA
Cost per acquisition, atau biaya per pembelian (atau per prospek). Rumusnya: biaya iklan dibagi jumlah pembelian. CPA berguna ketika nilai pesanan relatif seragam, atau ketika hasil iklan bukan penjualan langsung, misalnya chat atau pendaftaran.
Kapan memakai ROAS, kapan CPA?
ROAS paling cocok untuk toko yang menjual banyak produk dengan harga berbeda-beda, karena nilai pesanan ikut terhitung. Dua kampanye dengan jumlah pembelian sama bisa punya ROAS berbeda jauh bila yang satu menjual barang mahal.
CPA lebih cocok untuk usaha dengan satu produk atau harga yang hampir sama, untuk jasa yang hasil iklannya berupa prospek atau chat, dan untuk bisnis langganan yang nilai pelanggannya baru terlihat setelah beberapa bulan. Untuk usaha seperti itu, CPA dibandingkan dengan laba per pelanggan.
Dalam praktik, banyak pengiklan memantau keduanya. ROAS untuk menilai efisiensi pendapatan, CPA untuk memastikan biaya per pembeli masih masuk akal. Keduanya sebaiknya dibaca bersama metrik toko lain seperti laba kotor dan pembeli ulang, seperti dibahas di 9 metrik toko online yang wajib dicek tiap minggu.
Kalau ROAS terus di bawah angka impas, langkah perbaikannya dibahas di penyebab iklan Meta boncos. Selain memperbaiki iklan, menaikkan margin atau nilai order rata-rata juga menurunkan ROAS impas, sehingga iklan yang sama bisa berubah dari rugi menjadi untung.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah ROAS 1 berarti impas?
Tidak. ROAS 1 berarti pendapatan sama dengan biaya iklan, padahal kamu masih harus membayar produk, ongkir, dan biaya lain. Kecuali margin kotormu 100%, ROAS 1 berarti rugi.
Bagaimana menghitung ROAS untuk penjualan lewat WhatsApp?
Catat pesanan yang datang dari iklan, misalnya dengan menanyakan sumber saat chat atau memakai pesan pembuka khusus dari iklan. Jumlahkan nilai pesanannya, lalu bagi dengan biaya iklan pada periode yang sama.
Apakah ROAS harus dihitung per produk?
Idealnya per kelompok produk dengan margin serupa. Menggabungkan produk bermargin tipis dan tebal dalam satu angka ROAS bisa menyembunyikan produk yang sebenarnya merugi saat diiklankan.
Apakah ROAS bisa dipakai untuk membandingkan Meta Ads dan Google Ads?
Bisa sebagai gambaran, asal cara pelacakan dan jendela atribusinya dipahami, karena tiap platform menghitung dengan caranya sendiri. Perbandingan kedua platform dibahas di Google Ads vs Meta Ads.


