Lewati ke isi

SEO & Pemasaran

Struktur URL yang Ramah SEO untuk Website Bisnis

Cara menyusun URL yang mudah dibaca manusia dan Google: kata yang jelas, tanda hubung, huruf kecil, folder rapi, dan kapan URL lama tidak diubah.

Terbit 5 menit baca

Jawaban singkat

URL ramah SEO memakai kata yang bisa dibaca dalam bahasa pembeli, dipisah tanda hubung, huruf kecil, pendek, dan disusun dalam folder yang logis. Untuk website yang sudah berjalan, jangan ubah URL tanpa redirect 301.

Daftar isi
  1. Ciri URL yang ramah SEO
  2. Menyusun folder yang mengikuti struktur bisnis
  3. Kesalahan yang sering terjadi
  4. Kapan sebaiknya tidak mengubah URL?
  5. Ringkasan

Bayangkan kamu mengirim tautan halaman layanan ke calon klien lewat WhatsApp. Yang satu berbunyi namausaha.com/layanan/desain-interior-kantor, yang lain namausaha.com/index.php?page_id=482&cat=7. Dari tautan pertama, calon klien sudah tahu isinya sebelum membuka. Dari tautan kedua, ia tidak tahu apa-apa, dan sebagian orang malah ragu untuk mengklik.

Google bekerja dengan cara yang mirip. Panduan resmi Google menyarankan struktur URL yang sederhana dan mudah dipahami, memakai kata yang bisa dibaca alih-alih deretan angka ID. URL bukan faktor ranking yang menentukan segalanya, tetapi URL yang rapi membantu mesin pencari memahami halaman, membantu pembaca memutuskan untuk mengklik, dan memudahkan kamu sendiri mengelola website dalam jangka panjang.

Ciri URL yang ramah SEO

Prinsipnya bisa diringkas menjadi beberapa kebiasaan. Tabel berikut merangkum yang disarankan beserta contohnya.

PrinsipKurang baikLebih baik
Pakai kata yang bisa dibaca/produk?id=10293/produk/kursi-kantor-ergonomis
Pisahkan kata dengan tanda hubung/kursi_kantor_ergonomis/kursi-kantor-ergonomis
Gunakan huruf kecil semua/Produk/Kursi-Kantor/produk/kursi-kantor
Ringkas, buang kata yang tidak perlu/blog/2026/11/15/inilah-cara-terbaik-dan-mudah-untuk-merawat-kursi-kantor-anda/blog/cara-merawat-kursi-kantor
Pakai bahasa pembeli/products/ergonomic-office-chair (untuk pasar Indonesia)/produk/kursi-kantor-ergonomis
Hindari parameter yang tidak perlu/produk/kursi?sessionid=abc123&ref=menu/produk/kursi

Ada alasan teknis di balik beberapa poin itu. Google merekomendasikan tanda hubung karena garis bawah sering dipakai dalam pemrograman untuk menyambung kata, sehingga batas antarkata kurang jelas. Google juga memperlakukan URL secara peka huruf besar-kecil, jadi /Produk dan /produk dianggap dua alamat berbeda. Bila server menerima keduanya, kamu berisiko punya halaman ganda. Memakai huruf kecil secara konsisten menghindarkan masalah ini.

Kata kunci sebaiknya ada di URL bila memang menjelaskan isi halaman, tetapi tidak perlu dipaksakan atau diulang. /kursi-kantor-murah-kursi-kantor-ergonomis-jual-kursi-kantor tidak membantu siapa pun. Kata sambung seperti "dan", "yang", atau "untuk" boleh dibuang selama arti URL masih jelas.

Menyusun folder yang mengikuti struktur bisnis

Selain slug tiap halaman, susunan folder ikut berperan. Folder yang logis membuat website lebih mudah dijelajahi, memudahkan pengelompokan data di Search Console dan Analytics, dan sejalan dengan breadcrumb di halaman. Hubungannya dengan navigasi dibahas di artikel breadcrumb dan pengaruhnya pada SEO.

Contoh susunan untuk beberapa jenis website bisnis:

  • Company profile atau jasa: /layanan/nama-layanan, /proyek/nama-proyek, /tentang, /kontak.
  • Toko online: /kategori/nama-kategori dan /produk/nama-produk. Sebagian toko menaruh produk di bawah kategori, misalnya /kursi/kursi-kantor-ergonomis. Ini sah, tetapi berisiko bila satu produk masuk beberapa kategori dan muncul di beberapa URL. Pastikan hanya satu yang menjadi alamat utama.
  • Blog: /blog/judul-artikel. Tanggal di URL jarang diperlukan dan membuat artikel yang masih relevan terlihat usang. Bila sedang menimbang blog di subdomain atau di folder, baca dulu perbandingan subdomain dan subfolder untuk blog.
  • Cabang atau kota: /lokasi/jakarta, /lokasi/surabaya, bila setiap lokasi punya isi yang benar-benar berbeda.

Usahakan kedalaman folder tetap dangkal, dua atau tiga tingkat sudah cukup untuk sebagian besar website bisnis. URL yang terlalu dalam seperti /id/toko/kategori/sub/subsub/produk sulit dibaca dan dibagikan.

Bila website punya lebih dari satu bahasa, pisahkan tiap bahasa dalam folder sendiri, misalnya /en/ untuk versi bahasa Inggris, sementara versi Indonesia tetap di akar domain. Google menyebut struktur seperti ini memudahkan penargetan wilayah dan bahasa. Slug di folder bahasa Inggris sebaiknya juga ditulis dalam bahasa Inggris, jangan dibiarkan memakai kata Indonesia. Hindari memakai parameter seperti ?lang=en sebagai satu-satunya pembeda bahasa, karena lebih sulit dikelola dan dipantau di Search Console.

Kesalahan yang sering terjadi

Beberapa kesalahan muncul berulang, terutama di website yang dibangun cepat dengan CMS:

  • Slug otomatis dari judul yang terlalu panjang, lengkap dengan kata klise dan tanda baca yang berubah menjadi karakter aneh.
  • Bawaan permalink WordPress yang masih berupa ?p=123. Pengaturannya ada di Setelan > Permalink, sebaiknya diubah ke format "Nama tulisan" sejak awal, sebelum website diindeks.
  • Halaman yang sama bisa diakses dari beberapa alamat, misalnya dengan dan tanpa garis miring di akhir, atau versi http dan https. Pilih satu versi, lalu arahkan versi lain ke sana.
  • Parameter pelacak kampanye atau filter yang ikut terindeks. Gunakan tag canonical supaya Google tahu versi utama.
  • Fragmen # dipakai untuk memuat isi berbeda. Google menyarankan tidak memakai fragmen untuk mengganti isi halaman.

Untuk huruf di luar ASCII, misalnya nama produk dengan karakter khusus, URL perlu dikodekan (percent-encoding). Cara paling aman untuk website berbahasa Indonesia adalah tetap memakai huruf latin biasa tanpa simbol.

Kapan sebaiknya tidak mengubah URL?

Mengubah URL halaman yang sudah terindeks dan mendapat pengunjung punya risiko. Google perlu waktu untuk memproses alamat baru, link dari situs lain mengarah ke alamat lama, dan tautan yang sudah dibagikan pelanggan bisa rusak. Bila URL lama sudah cukup jelas meski tidak sempurna, sering kali lebih baik dibiarkan.

Bila perubahan memang perlu, misalnya pindah dari ?p=123 ke URL yang bisa dibaca, lakukan dengan terencana: buat daftar URL lama dan baru, pasang redirect 301 dari setiap URL lama ke URL baru yang setara, perbarui link internal dan sitemap, lalu pantau laporan Pengindeksan di Search Console selama beberapa minggu. Teknis redirect dibahas di panduan redirect 301.

Ringkasan

URL yang baik itu sederhana: kata yang bisa dibaca dalam bahasa pembelimu, tanda hubung sebagai pemisah, huruf kecil, pendek, dan berada di folder yang masuk akal. Tetapkan aturan ini sejak website dibangun dan tuliskan sebagai pedoman singkat untuk siapa pun yang menambah halaman, karena memperbaikinya belakangan selalu lebih repot. Untuk website yang sudah berjalan, prioritaskan konsistensi dan jangan mengubah URL tanpa redirect yang benar.

Sumber & referensi

Baca juga