Lewati ke isi

Bisnis Digital

Cara Follow Up Calon Pembeli Tanpa Terkesan Mengganggu

Cara follow up calon pembeli lewat WhatsApp atau email dengan jadwal wajar, pesan yang berguna, dan tahu kapan harus berhenti agar tidak mengganggu.

Terbit 5 menit baca

Jawaban singkat

Follow up terasa mengganggu bila isinya hanya menagih keputusan. Kirim pesan yang membawa informasi baru atau menjawab keraguan, beri jeda yang wajar, batasi jumlahnya, dan selalu beri pembeli jalan keluar yang sopan.

Daftar isi
  1. Ubah tujuan pesan dari menagih menjadi membantu
  2. Berapa kali dan seberapa sering follow up dikirim?
  3. Pesan penutup yang sering paling berhasil
  4. Nada bahasa dan hal yang sebaiknya dihindari
  5. Pilih kanal yang sesuai dengan percakapan awal
  6. Catat agar tidak ada yang terlewat

Seorang calon pembeli bertanya detail paket katering untuk acara kantor, kamu menjawab lengkap dengan daftar menu dan harga, lalu ia membalas "oke, nanti saya kabari ya". Tiga hari berlalu tanpa kabar. Kamu ingin menanyakan lagi, tapi khawatir dianggap memaksa. Akhirnya kamu diam, dan pesanan itu jatuh ke penjual lain yang lebih berani menyapa.

Situasi ini sangat umum. Banyak orang yang bilang "nanti dikabari" sebenarnya masih berminat, hanya sibuk, lupa, atau menunggu persetujuan atasan. Follow up yang tepat justru membantu mereka. Yang membuatnya terasa mengganggu bukan tindakannya, melainkan isi, frekuensi, dan nadanya.

Ubah tujuan pesan dari menagih menjadi membantu

Pesan "Gimana Kak, jadi pesan?" menempatkan pembeli di posisi harus menjawab ya atau tidak. Kalau belum siap memutuskan, cara paling mudah bagi mereka adalah tidak membalas sama sekali.

Bandingkan dengan pesan yang membawa sesuatu yang baru: "Kak, kemarin sempat tanya soal menu untuk 50 orang. Saya lampirkan contoh foto penyajian dari acara serupa supaya ada gambaran. Kalau perlu penyesuaian menu untuk peserta yang vegetarian, kami bisa bantu." Pesan seperti ini memberi nilai, mengingatkan tanpa menekan, dan membuka percakapan lagi.

Bahan follow up yang berguna antara lain jawaban atas keraguan yang sempat mereka sebut, foto atau video produk yang lebih detail, ulasan pelanggan lain yang relevan, informasi stok atau jadwal yang memang berubah, dan pilihan alternatif yang lebih sesuai anggaran. Kalau selama chat pertama pembeli menyebut kekhawatiran tertentu (harga, ukuran, waktu kirim), catat. Itu bahan follow up paling kuat.

Berapa kali dan seberapa sering follow up dikirim?

Tidak ada jadwal baku yang cocok untuk semua bisnis. Produk murah yang dibeli spontan butuh follow up lebih cepat dibanding jasa bernilai besar yang perlu dibahas di rapat. Tapi pola umumnya bisa dibuat seperti tabel berikut, lalu disesuaikan.

TahapKapanIsi pesanContoh
Pertama1 hari setelah chat terakhirRingkasan dan satu informasi tambahanFoto detail, jawaban atas pertanyaan yang tertunda
Kedua3 sampai 4 hari kemudianMenjawab keraguan yang paling mungkinUlasan pelanggan, opsi pembayaran
KetigaSekitar seminggu kemudianPesan penutup yang memberi jalan keluar"Kalau sudah tidak dibutuhkan, tidak apa-apa, Kak"
Setelah ituHanya bila ada kabar yang relevanInfo baru yang memang bergunaStok yang dulu ditanyakan sudah ada lagi

Tiga kali follow up tanpa balasan biasanya batas yang wajar. Lebih dari itu, kemungkinan besar pesanmu mulai dianggap gangguan. Kalau pembeli secara jelas berkata tidak tertarik atau meminta berhenti dihubungi, hormati itu dan hapus mereka dari daftar follow up. Selain soal sopan santun, data kontak pembeli termasuk data pribadi yang penggunaannya harus sesuai tujuan dan persetujuan mereka.

Perhatikan juga waktu kirim. Pesan di jam kerja atau awal malam lebih wajar daripada larut malam atau subuh. Untuk pembeli bisnis, hindari akhir pekan kecuali mereka sendiri aktif di jam itu.

Pesan penutup yang sering paling berhasil

Pesan ketiga punya fungsi khusus: memberi pembeli izin untuk menolak. Contohnya: "Kak, saya tidak mau mengganggu. Kalau rencananya berubah atau sudah dapat vendor lain, tidak apa-apa, cukup balas 'nanti saja' supaya saya tidak menghubungi lagi. Kalau masih dipertimbangkan, saya siap bantu kapan pun."

Pesan seperti ini sering mendapat balasan, karena pembeli merasa dihargai dan cukup mudah untuk menjawab. Kadang jawabannya "masih mau, tapi bulan depan", informasi yang sangat berguna untuk menjadwalkan follow up berikutnya. Kadang jawabannya "sudah beli di tempat lain", dan itu pun membantu kamu membersihkan daftar dan belajar alasannya.

Nada bahasa dan hal yang sebaiknya dihindari

Gunakan bahasa yang sama dengan percakapan awal. Kalau chat pertama santai, follow up jangan tiba-tiba sangat formal, dan sebaliknya. Sebut konteks spesifik (produk atau kebutuhan yang mereka tanyakan), supaya pesan tidak terasa seperti pesan massal.

Beberapa hal membuat follow up terasa menekan dan sebaiknya dihindari: urgensi palsu seperti "promo berakhir hari ini" padahal tidak, menyindir karena tidak dibalas ("Kok diread doang, Kak?"), mengirim pesan beruntun dalam sehari, menelepon tanpa izin, dan memasukkan nomor pembeli ke grup atau broadcast tanpa bertanya lebih dulu. Satu pengalaman tidak nyaman bisa membuat pembeli memblokir nomor tokomu, yang berarti kesempatan berikutnya juga hilang.

Pilih kanal yang sesuai dengan percakapan awal

Follow up sebaiknya dikirim lewat kanal yang sama dengan tempat pembeli pertama kali bertanya. Pembeli yang bertanya di WhatsApp lebih nyaman dibalas di WhatsApp. Pembeli bisnis yang mengirim permintaan penawaran lewat email biasanya lebih cocok di-follow up lewat email, karena mereka mungkin perlu meneruskannya ke atasan atau bagian keuangan.

Untuk pembeli bisnis, lampirkan ulang penawaran dalam bentuk dokumen yang rapi, sebutkan masa berlaku harga bila ada, dan tawarkan panggilan singkat untuk membahas pertanyaan. Pindah kanal, misalnya dari email ke telepon, sebaiknya hanya setelah pembeli setuju. Begitu juga sebaliknya: kalau pembeli Instagram meminta dihubungi lewat WhatsApp, pastikan nomor yang mereka berikan memang untuk keperluan itu.

Catat agar tidak ada yang terlewat

Follow up yang baik butuh catatan sederhana: siapa yang bertanya, produk apa, keraguan apa yang disebut, kapan follow up terakhir, dan kapan berikutnya. Label chat di WhatsApp Business sudah membantu, dan alurnya bisa digabung dengan SOP admin chat WhatsApp yang dipakai timmu. Saat jumlah prospek makin banyak, spreadsheet atau CRM akan jauh lebih rapi. Panduan memilihnya ada di kapan bisnis perlu CRM.

Sebagian pekerjaan ini bisa dibantu teknologi, misalnya pengingat otomatis untuk admin atau AI yang membantu menyusun draf pesan sesuai konteks chat, seperti dibahas di AI untuk tim sales. Tetapi keputusan kapan dan apa yang dikirim tetap sebaiknya dipegang manusia, terutama untuk pembeli bernilai besar.

Follow up yang tidak mengganggu pada dasarnya adalah follow up yang berguna. Bawa informasi baru di setiap pesan, beri jarak yang wajar, batasi jumlahnya, dan selalu sediakan jalan keluar yang sopan. Dengan cara ini, pembeli yang belum siap tetap merasa nyaman untuk kembali ketika waktunya tepat.

Baca juga