Lewati ke isi

Website & Domain

Cara Pindah Hosting cPanel ke cPanel Tanpa Kehilangan Data

Langkah pindah hosting cPanel ke cPanel dengan aman, dari inventaris, backup penuh, restore, uji lewat file hosts, sampai ganti DNS tanpa email hilang.

Terbit 6 menit baca

Jawaban singkat

Cara paling aman pindah hosting cPanel ke cPanel adalah membuat backup penuh di hosting lama, meminta penyedia baru memulihkannya lewat WHM, menguji website lewat file hosts, baru mengganti DNS. Biarkan hosting lama aktif beberapa hari agar email tidak hilang.

Daftar isi
  1. Bagaimana langkah pindah hosting cPanel ke cPanel?
  2. 1. Inventaris isi akun lama
  3. 2. Turunkan TTL DNS beberapa hari sebelumnya
  4. 3. Buat backup penuh di cPanel lama
  5. 4. Pulihkan di hosting baru
  6. 5. Sesuaikan nama database dan user
  7. 6. Uji website di server baru lewat file hosts
  8. 7. Pasang SSL di server baru
  9. 8. Bekukan perubahan, lalu ganti DNS
  10. 9. Amankan email selama masa peralihan
  11. 10. Tutup hosting lama setelah semuanya aman
  12. Cara memindahkan mana yang paling cocok?
  13. Pertanyaan yang sering diajukan

Mau pindah hosting tapi takut website rusak atau email pelanggan hilang di tengah jalan? Kekhawatiran itu wajar, karena migrasi menyentuh file, database, email, dan DNS sekaligus.

Kabar baiknya, perpindahan antar hosting yang sama-sama memakai cPanel termasuk yang paling mudah. cPanel punya format backup penuh yang bisa dipulihkan utuh di server cPanel lain lewat WHM, lengkap dengan file, database, email, dan pengaturan domain. Kuncinya ada di urutan: backup, pulihkan, uji, baru alihkan DNS. Jangan pernah mematikan hosting lama sebelum semuanya terbukti berjalan.

Bagaimana langkah pindah hosting cPanel ke cPanel?

1. Inventaris isi akun lama

Catat semua yang ada di akun: domain utama, addon domain, subdomain, daftar akun email, database, cron job, versi PHP tiap domain, dan pengaturan khusus di .htaccess atau php.ini. Catat juga record DNS bila domain memakai nameserver hosting lama, terutama record MX, TXT (SPF, DKIM, verifikasi Google), dan CNAME untuk layanan pihak ketiga. Record ini sering terlupa dan baru ketahuan saat email atau layanan lain berhenti.

2. Turunkan TTL DNS beberapa hari sebelumnya

Bila kamu mengelola DNS sendiri, turunkan TTL record A dan MX ke nilai kecil (misalnya 300 detik) setidaknya satu sampai dua hari sebelum hari pindah. Dengan begitu, saat DNS diubah nanti, resolver lebih cepat mengambil alamat baru. Konsepnya dijelaskan di TTL dan propagasi DNS.

3. Buat backup penuh di cPanel lama

Buka menu Backup atau Backup Wizard, pilih Full Backup, simpan di Home Directory, lalu unduh file .tar.gz yang dihasilkan ke komputermu. Pastikan kuota akun masih cukup, karena dokumentasi cPanel menyebut proses backup untuk akun yang hampir atau sudah melewati kuota bisa gagal. Hapus cache dan backup lama dulu bila ruang menipis.

Simpan juga backup sebagian sebagai cadangan: Home Directory (file) dan setiap database .sql dari menu yang sama.

4. Pulihkan di hosting baru

Ada hal penting yang perlu diketahui: backup penuh tidak bisa dipulihkan otomatis dari cPanel biasa, hanya dari WHM. Karena itu, serahkan file backup penuh ke penyedia hosting baru dan minta mereka memulihkannya. Banyak penyedia juga bisa memindahkan akun langsung dari server lama memakai Transfer Tool di WHM, asalkan kamu memberi akses yang diperlukan.

Kalau harus memulihkan sendiri tanpa bantuan, kamu bisa memakai restore sebagian dari Backup Wizard di akun baru: Home Directory, database MySQL, serta forwarder dan filter email. Akun email dan pengaturan lain perlu dibuat ulang secara manual.

5. Sesuaikan nama database dan user

Di cPanel, nama database dan user diawali username akun, misalnya akunlama_wp. Bila username di hosting baru berbeda dan kamu memulihkan secara manual, nama database ikut berubah. Perbarui file konfigurasi aplikasi, misalnya wp-config.php untuk WordPress, dengan nama database, user, dan password yang baru. Pemulihan penuh lewat WHM biasanya menangani ini otomatis.

6. Uji website di server baru lewat file hosts

Sebelum mengubah DNS, buka website di server baru dengan menambahkan baris ke file hosts komputermu:

203.0.113.10   namadomainmu.com www.namadomainmu.com

Ganti 203.0.113.10 dengan IP server baru. File hosts ada di C:\Windows\System32\drivers\etc\hosts di Windows (buka editor sebagai administrator) dan /etc/hosts di macOS serta Linux. Setelah itu browser di komputermu membuka server baru, sementara pengunjung lain masih ke server lama.

Uji halaman utama, login admin, formulir kontak, keranjang belanja, dan unggah gambar. Bila ada error 500, periksa versi PHP dan log error. Setelah selesai, hapus baris tadi dari file hosts.

7. Pasang SSL di server baru

AutoSSL biasanya baru bisa menerbitkan sertifikat setelah domain mengarah ke server baru, karena validasinya memerlukan domain itu. Jadwalkan pengecekan SSL segera setelah DNS berpindah. Sebagian penyedia bisa memindahkan sertifikat lama selama migrasi.

8. Bekukan perubahan, lalu ganti DNS

Supaya tidak ada data yang tertinggal, hindari perubahan konten di website lama sejak backup dibuat. Untuk toko online, pilih jam sepi dan sinkronkan ulang database tepat sebelum pindah bila ada pesanan baru. Setelah itu ubah nameserver di registrar atau record A di DNS yang kamu kelola. Bila pakai nameserver, langkahnya ada di cara mengarahkan domain lewat nameserver.

9. Amankan email selama masa peralihan

Selama propagasi, sebagian email masih masuk ke server lama. Biarkan hosting lama aktif beberapa hari, lalu periksa kotak masuk di server lama lewat webmail dan pindahkan pesan yang masuk setelah backup dibuat. Cara memindahkan pesan email secara lengkap ada di cara pindah email hosting.

10. Tutup hosting lama setelah semuanya aman

Setelah beberapa hari tanpa masalah, website dan email berjalan di server baru, dan kamu masih menyimpan backup penuh di komputer, barulah hosting lama boleh dihentikan. Kembalikan TTL ke nilai normal.

Cara memindahkan mana yang paling cocok?

CaraYang ikut pindahPerlu bantuan penyedia
Transfer Tool WHM dari server lamaSeluruh akunYa, penyedia baru
Backup penuh lalu restore di WHMSeluruh akunYa, penyedia baru
Restore sebagian di cPanelFile, database, forwarder dan filter emailTidak, akun email dibuat ulang

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah pindah hosting membuat website down?

Bila mengikuti urutan backup, uji lewat file hosts, lalu ganti DNS, website tetap bisa diakses selama peralihan karena server lama dan baru sama-sama aktif. Sebagian pengunjung hanya pindah server tanpa sadar.

Apakah ranking Google turun setelah pindah hosting?

Selama domain, URL, dan isi tidak berubah dan website tidak lama down, pindah hosting umumnya tidak memengaruhi ranking. Pastikan tidak ada halaman yang hilang atau error setelah pindah.

Bagaimana bila hosting lama sudah habis masa aktifnya?

Hubungi penyedia lama secepatnya. Banyak penyedia menyimpan data akun untuk sementara waktu setelah layanan berakhir, tetapi kebijakannya berbeda-beda. Itulah alasan backup penuh sebaiknya diunduh sebelum masa aktif habis.

Apakah cara ini berlaku untuk WordPress?

Ya. Backup penuh cPanel membawa file dan database WordPress. Bila domain tetap sama, kamu tidak perlu mengubah URL di database. Bila domain ikut berganti, ikuti panduan pindah WordPress dari wordpress.org.

Bisakah pindah dari cPanel ke panel lain dengan cara yang sama?

Format backup penuh cPanel dirancang untuk server cPanel. Untuk panel lain, biasanya file dan database dipindahkan terpisah, dan email dibuat ulang lalu disinkronkan.

Checklist sebelum menutup hosting lama:

  • Backup penuh sudah diunduh dan disimpan di luar server.
  • Semua domain, email, database, dan cron job sudah ada di server baru.
  • Website sudah diuji lewat file hosts tanpa error.
  • SSL aktif di server baru.
  • DNS sudah mengarah ke server baru dan email masuk normal.
  • Email yang tertinggal di server lama sudah dipindahkan.

Sumber & referensi

Baca juga