Cara Upload Website ke Hosting Lewat File Manager
Panduan upload website ke hosting lewat File Manager cPanel, dari kompres ke ZIP, unggah ke public_html, ekstrak, atur izin file, sampai impor database.
Jawaban singkat
Kompres folder website menjadi file ZIP, buka File Manager di cPanel, masuk ke public_html atau document root domain, unggah ZIP, lalu ekstrak. Pastikan file index berada langsung di folder itu, izin file 644 dan folder 755, dan impor database bila website memakai database.
Daftar isi
- Bagaimana langkah upload website lewat File Manager?
- 1. Siapkan dan kompres file di komputer
- 2. Masuk ke cPanel dan buka File Manager
- 3. Masuk ke folder yang benar
- 4. Unggah file ZIP
- 5. Ekstrak file ZIP
- 6. Periksa izin file dan folder
- 7. Impor database bila website memakai database
- 8. Uji website
- Kenapa website tidak muncul setelah diunggah?
- Pertanyaan yang sering diajukan
Sudah punya file website di laptop dan ingin segera tayang di domain sendiri? Kamu tidak butuh aplikasi FTP atau perintah terminal. File Manager di cPanel cukup untuk mengunggah website statis HTML maupun website PHP, langsung dari browser.
Intinya: kompres semua file menjadi satu ZIP, unggah ke folder website di hosting (biasanya public_html), ekstrak di sana, lalu pastikan file index berada di tempat yang benar. Kalau website memakai database, ada satu tahap tambahan untuk mengimpornya. Berikut langkah lengkapnya.
Bagaimana langkah upload website lewat File Manager?
1. Siapkan dan kompres file di komputer
Buka folder proyek website dan pastikan halaman utamanya bernama index.html atau index.php. Pilih semua isi folder (bukan folder induknya), lalu kompres menjadi ZIP. Di Windows, klik kanan lalu pilih kompres ke ZIP. Di macOS, klik kanan lalu pilih Compress.
Mengompres isi folder, bukan foldernya, membuat file langsung berada di public_html setelah diekstrak, sehingga tidak perlu dipindahkan lagi. Mengunggah satu ZIP juga jauh lebih cepat dan andal daripada ratusan file satu per satu.
Sebelum kompres, buang folder yang tidak dibutuhkan di server seperti node_modules, .git, atau file desain mentah. Selain menghemat waktu unggah, ini menghemat inode akun.
2. Masuk ke cPanel dan buka File Manager
Login ke cPanel, lalu buka File Manager di bagian Files. Kalau ingin melihat file tersembunyi seperti .htaccess, klik Settings di kanan atas dan centang Show Hidden Files (dotfiles), lalu simpan.
3. Masuk ke folder yang benar
Untuk domain utama akun, folder website biasanya public_html. Untuk addon domain atau subdomain, foldernya bisa berbeda. Cek di menu Domains di cPanel, kolom document root menunjukkan folder setiap domain. Salah folder adalah penyebab paling umum website tidak muncul setelah diunggah.
Bila di folder itu sudah ada file bawaan seperti default.html atau index.html dari penyedia, hapus atau ganti namanya agar tidak menimpa halaman utamamu.
4. Unggah file ZIP
Klik Upload di bilah atas. Halaman unggah terbuka di tab baru. Seret file ZIP ke area unggah atau klik Select File. Tunggu sampai bilah progres selesai dan berwarna hijau, lalu kembali ke tab File Manager dan klik Reload.
Ukuran maksimal unggah lewat File Manager ditentukan oleh pengaturan server penyedia. Bila file terlalu besar dan gagal, pecah menjadi beberapa ZIP atau gunakan FTP.
5. Ekstrak file ZIP
Klik kanan file ZIP, lalu pilih Extract. Pastikan folder tujuan sudah benar, misalnya /public_html, lalu konfirmasi. Setelah selesai, klik Reload dan periksa hasilnya.
Kalau ternyata file masuk ke subfolder (misalnya public_html/websiteku/index.html), masuk ke subfolder itu, pilih semua isinya dengan Select All, klik Move, lalu isi tujuan /public_html. Setelah itu hapus subfolder yang kosong dan file ZIP agar tidak bisa diunduh orang lain.
6. Periksa izin file dan folder
Pengaturan yang umum dipakai di hosting Linux adalah 644 untuk file dan 755 untuk folder. Kamu bisa melihat dan mengubahnya lewat klik kanan lalu Change Permissions. Jangan memberi izin 777, karena membuat file bisa diubah oleh proses lain dan berisiko keamanan. Bila website menampilkan error 403 atau 500 setelah diunggah, izin yang salah termasuk hal pertama yang perlu dicek.
7. Impor database bila website memakai database
Website statis HTML selesai di langkah sebelumnya. Website PHP seperti WordPress, Laravel, atau aplikasi custom biasanya butuh database. Buat database dan user baru di menu MySQL Databases, berikan hak akses user ke database, lalu buka phpMyAdmin, pilih database tersebut, dan gunakan tab Import untuk mengunggah file .sql. Langkah membuat database dijelaskan di cara membuat database MySQL di cPanel.
Terakhir, sesuaikan file konfigurasi aplikasi (misalnya wp-config.php atau .env) dengan nama database, user, dan password yang baru. Di cPanel, nama database dan user biasanya diawali username akun hosting.
8. Uji website
Buka domainmu di browser. Bila yang muncul masih halaman lama atau halaman default, kosongkan cache browser atau coba mode penyamaran. Bila domain sama sekali tidak terbuka, masalahnya kemungkinan di DNS, bukan di file, lihat domain tidak bisa diakses padahal aktif. Pastikan juga HTTPS aktif dan tidak ada peringatan sertifikat.
Kenapa website tidak muncul setelah diunggah?
Beberapa penyebab yang paling sering ditemui beserta perbaikannya:
| Gejala | Penyebab umum | Perbaikan |
|---|---|---|
| Daftar file (Index of /) | Tidak ada file index di folder | Pindahkan index.html atau index.php ke document root |
| Halaman default penyedia | File bawaan masih ada | Hapus atau ganti nama file bawaan |
| Error 403 | Izin file atau folder salah | Atur 644 untuk file dan 755 untuk folder |
| Error 500 | .htaccess atau versi PHP tidak cocok | Cek error log dan versi PHP |
| Error koneksi database | Data di file konfigurasi belum diganti | Sesuaikan nama database, user, password |
| Gambar atau CSS tidak tampil | Path masih menunjuk ke folder lokal | Ganti path absolut menjadi relatif atau domain baru |
Untuk error 500, log di cPanel biasanya langsung menunjukkan file dan baris penyebabnya. Cara membacanya ada di cara membaca error log cPanel.
Pertanyaan yang sering diajukan
Lebih baik pakai File Manager atau FTP?
File Manager praktis untuk unggahan sesekali karena tidak perlu aplikasi tambahan. FTP atau SFTP lebih nyaman untuk file sangat besar atau pembaruan yang sering, karena bisa melanjutkan unggahan yang terputus.
Apakah bisa mengunggah folder tanpa mengompres?
Unggahan per file bisa dilakukan, tetapi untuk website dengan banyak file prosesnya lama dan rawan ada file yang terlewat. Mengompres ke ZIP lalu mengekstrak di server jauh lebih andal.
Bagaimana cara memperbarui satu file saja?
Masuk ke folder file tersebut, unggah versi baru dengan nama yang sama, lalu setujui saat diminta menimpa. Atau gunakan menu Edit di File Manager untuk perubahan kecil, setelah menyimpan salinan file lama.
Apakah WordPress juga diunggah dengan cara ini?
Bisa, tetapi untuk instalasi baru lebih mudah memakai pemasang aplikasi seperti Softaculous. Cara unggah manual lebih cocok untuk memindahkan website WordPress yang sudah jadi, bersama database-nya.
Checklist setelah upload:
- File index berada langsung di document root domain.
- File bawaan penyedia dan file ZIP sudah dihapus.
- Izin file 644 dan folder 755.
- Database sudah diimpor dan file konfigurasi disesuaikan.
- Website terbuka lewat HTTPS tanpa peringatan.


