Lewati ke isi

Server & Infrastruktur

RAID 1, 5, atau 10: Pilih Konfigurasi Disk Server

Bandingkan RAID 0, 1, 5, 6, dan 10 dari kapasitas, performa, toleransi kerusakan, dan risiko rebuild, plus beda RAID hardware, mdadm, dan ZFS.

Terbit 6 menit baca

Jawaban singkat

RAID 1 cocok untuk dua disk dan data penting, RAID 10 untuk database dan beban tulis berat, RAID 6 untuk kapasitas besar yang tetap tahan dua disk rusak. RAID 5 kini berisiko pada disk berkapasitas besar karena rebuild lama. Apa pun pilihannya, RAID bukan backup.

Daftar isi
  1. Perbandingan level RAID
  2. Apa kelebihan dan kekurangan tiap level?
  3. RAID 0 dan RAID 1: dua ujung ekstrem
  4. RAID 5 dan RAID 6: hemat kapasitas dengan paritas
  5. RAID 10: cermin yang di-stripe
  6. RAID hardware atau software?
  7. RAID hardware
  8. RAID software: mdadm dan ZFS
  9. Kapan memilih RAID 1, RAID 5, RAID 6, atau RAID 10?
  10. Pertanyaan yang sering diajukan

Satu disk server rusak di tengah jam kerja. Dengan RAID yang tepat, server tetap berjalan dan kamu cukup mengganti disknya. Tanpa RAID, atau dengan RAID yang salah pilih, hari itu berubah menjadi pemulihan data dari backup, kalau backup-nya ada.

RAID (Redundant Array of Independent Disks) menggabungkan beberapa disk menjadi satu volume untuk menambah kecepatan, ketahanan terhadap kerusakan disk, atau keduanya. Setiap level RAID menukar tiga hal secara berbeda: kapasitas yang bisa dipakai, performa baca dan tulis, serta berapa disk yang boleh rusak sebelum data hilang.

Perbandingan level RAID

Contoh kapasitas memakai empat disk masing-masing 4 TB (RAID 1 memakai dua disk).

LevelDisk minimalKapasitas terpakaiContoh kapasitasDisk boleh rusakPerforma tulis
RAID 02100%16 TB0Paling cepat
RAID 1250%4 TB (2 disk)1Setara satu disk
RAID 53(n-1) disk12 TB1Lambat untuk tulis acak (paritas)
RAID 64(n-2) disk8 TB2Lebih lambat dari RAID 5
RAID 10450%8 TB1 per pasangan cerminCepat, tanpa hitungan paritas

Apa kelebihan dan kekurangan tiap level?

RAID 0 dan RAID 1: dua ujung ekstrem

RAID 0 membagi data ke semua disk (striping). Kecepatan dan kapasitasnya maksimal, tetapi satu disk rusak berarti seluruh volume hilang. Risikonya justru naik setiap kali disk ditambah. RAID 0 hanya layak untuk data sementara yang bisa dibuat ulang, misalnya cache atau ruang kerja render.

RAID 1 menyalin data yang sama ke dua disk (mirroring). Kapasitasnya separuh, tetapi bila satu disk rusak, disk lainnya tetap berisi data lengkap. Pembacaan bisa lebih cepat karena diambil dari dua disk. RAID 1 adalah pilihan aman dan sederhana untuk server dengan dua disk, misalnya disk sistem operasi.

RAID 5 dan RAID 6: hemat kapasitas dengan paritas

RAID 5 menyebar data dan informasi paritas ke semua disk. Bila satu disk rusak, isinya bisa dihitung ulang dari disk lain. Kapasitas yang hilang hanya setara satu disk, sehingga terlihat efisien.

Masalahnya ada di dua hal. Pertama, setiap penulisan kecil butuh membaca dan menulis paritas, sehingga RAID 5 lambat untuk beban tulis acak seperti database. Kedua, selama rebuild setelah disk rusak, semua disk tersisa dibaca penuh. Pada disk berkapasitas besar, proses ini bisa berlangsung sangat lama, dan bila disk kedua gagal atau ditemukan sektor rusak selama itu, data bisa hilang.

RAID 6 memakai dua blok paritas, sehingga tahan dua disk rusak sekaligus. Kapasitas yang hilang setara dua disk dan penulisan lebih berat, tetapi jauh lebih aman untuk array besar. Untuk penyimpanan arsip, file server, atau backup lokal dengan banyak disk besar, RAID 6 lebih masuk akal daripada RAID 5.

RAID 10: cermin yang di-stripe

RAID 10 menggabungkan RAID 1 dan RAID 0: disk dipasangkan sebagai cermin, lalu pasangan-pasangan itu di-stripe. Tidak ada perhitungan paritas, sehingga penulisan cepat dan rebuild hanya menyalin dari pasangan cerminnya, bukan membaca seluruh array.

Kapasitasnya separuh dari total disk. Array bisa bertahan dari beberapa disk rusak asal tidak dua disk dalam pasangan yang sama. Untuk database, mesin virtual, dan beban tulis berat lainnya, RAID 10 adalah pilihan yang umum direkomendasikan.

RAID hardware atau software?

RAID hardware

RAID hardware memakai kartu controller khusus yang mengatur disk dan menampilkan satu volume ke sistem operasi. Controller kelas server biasanya punya cache tulis yang dilindungi baterai atau flash, sehingga penulisan bisa dikonfirmasi lebih cepat tanpa risiko kehilangan data saat listrik padam. Kelemahannya, bila controller rusak, kamu biasanya butuh controller yang kompatibel untuk membaca array, dan pemantauan kesehatan disk bergantung pada alat dari vendor controller.

RAID software: mdadm dan ZFS

mdadm adalah RAID software bawaan Linux. Ia mendukung RAID 0, 1, 5, 6, dan 10, tidak butuh perangkat keras khusus, dan array bisa dipindah ke server Linux lain cukup dengan memindahkan disknya. Pada prosesor modern, beban CPU untuk RAID software umumnya kecil untuk kebanyakan pemakaian.

ZFS menggabungkan sistem file dan pengelola volume. Selain mirror (setara RAID 1/10) dan RAIDZ1, RAIDZ2, RAIDZ3 (setara paritas tunggal, ganda, dan tiga), ZFS menyimpan checksum untuk setiap blok data. Saat membaca, ZFS memeriksa checksum dan bisa memperbaiki data yang rusak diam-diam dari salinan lain. ZFS juga punya snapshot dan kompresi bawaan. ZFS sebaiknya diberi akses langsung ke disk, bukan lewat volume RAID hardware, dan membutuhkan RAM yang cukup untuk cache-nya.

ZFS menjadi pilihan penyimpanan umum di platform virtualisasi seperti Proxmox VE, yang dibahas di Proxmox VE vs VMware ESXi.

Kapan memilih RAID 1, RAID 5, RAID 6, atau RAID 10?

Pilih RAID 1 bila server hanya punya dua disk, misalnya server kecil untuk aplikasi kantor, atau sebagai disk sistem operasi yang terpisah dari disk data.

Pilih RAID 10 untuk database, mesin virtual, server email, dan beban dengan banyak penulisan acak. Kamu membayar dengan kapasitas, tetapi mendapat performa tulis yang baik dan rebuild yang lebih cepat dan aman. Bila kamu sedang menentukan server untuk database, pertimbangan mesin database-nya ada di PostgreSQL vs MySQL vs MariaDB.

Pilih RAID 6 (atau RAIDZ2 di ZFS) untuk kapasitas besar dengan banyak disk, seperti file server, arsip, atau penyimpanan backup lokal, ketika kapasitas lebih penting daripada kecepatan tulis.

Pertimbangkan RAID 5 hanya untuk array kecil dengan disk berkapasitas kecil atau SSD, dan dengan backup yang solid. Untuk disk HDD besar, risiko selama rebuild membuat RAID 6 lebih layak.

Hindari RAID 0 untuk data apa pun yang tidak boleh hilang.

Satu hal lagi yang sering terlewat: RAID hanya berguna bila ada yang memperhatikan. Aktifkan notifikasi saat disk rusak atau array terdegradasi, karena array yang sudah kehilangan satu disk dan dibiarkan berbulan-bulan sama rapuhnya dengan server tanpa RAID. Pertimbangan memilih server fisik dengan konfigurasi disk yang tepat dibahas di kapan bisnis butuh dedicated server, dan strategi backup yang benar di backup website otomatis.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah RAID diperlukan untuk SSD atau NVMe?

Tetap disarankan untuk server produksi. SSD dan NVMe juga bisa rusak, dan RAID 1 atau RAID 10 membuat server tetap berjalan saat itu terjadi.

Bisakah mencampur disk dengan ukuran berbeda dalam satu RAID?

Bisa, tetapi kapasitas setiap disk dihitung setara disk terkecil, sehingga sisa ruang di disk yang lebih besar tidak terpakai.

Berapa lama proses rebuild RAID?

Bergantung pada ukuran disk, jenis RAID, kecepatan disk, dan beban server selama rebuild. RAID 10 umumnya lebih cepat karena hanya menyalin dari pasangan cermin, sedangkan RAID 5 dan 6 harus membaca semua disk.

Apakah RAID software lebih buruk dari RAID hardware?

Tidak selalu. mdadm dan ZFS banyak dipakai di server produksi. RAID hardware unggul bila punya cache tulis terlindungi, sedangkan RAID software unggul dalam portabilitas dan, untuk ZFS, perlindungan dari kerusakan data diam-diam.

Sumber & referensi

Baca juga