Lewati ke isi

Bisnis Digital

Sistem Pre-Order untuk UMKM, Cara Kerja dan Risikonya

Cara kerja sistem pre-order untuk UMKM, pilihan skema pembayaran, risiko yang sering terjadi, dan cara menjalankannya agar pembeli tetap percaya.

Terbit 5 menit baca

Jawaban singkat

Pre-order membuat UMKM bisa memproduksi sesuai pesanan dengan modal dari pembeli, sehingga risiko stok menumpuk berkurang. Risikonya ada di keterlambatan, biaya yang meleset, dan kepercayaan pembeli, jadi jadwal, kuota, dan aturan pembatalan harus jelas sejak awal.

Daftar isi
  1. Bagaimana alur pre-order berjalan?
  2. Bayar penuh atau uang muka?
  3. Risiko yang paling sering terjadi
  4. Cara menjalankan PO yang membuat pembeli percaya
  5. Umumkan informasi lengkap sejak awal
  6. Tetapkan kuota sesuai kapasitas nyata
  7. Beri kabar berkala
  8. Siapkan rencana kalau terlambat
  9. Catat setiap pesanan dengan rapi
  10. Kapan sebaiknya tidak memakai pre-order?
  11. Pertanyaan yang sering diajukan

Pre-order (PO) adalah sistem jualan di mana pembeli memesan dan membayar lebih dulu, lalu barang diproduksi atau didatangkan setelah pesanan terkumpul.

Bagi UMKM, sistem ini menarik karena dua alasan. Modal produksi sebagian datang dari pembeli, dan kamu tidak perlu menebak berapa stok yang harus dibuat. Tetapi PO juga memindahkan risiko ke hubungan dengan pembeli: begitu uang diterima, kamu memegang janji yang harus ditepati tepat waktu.

Bagaimana alur pre-order berjalan?

Alur umumnya terdiri dari lima tahap:

  1. Pengumuman: produk, harga, periode pemesanan, kuota, dan perkiraan tanggal kirim diumumkan.
  2. Periode pemesanan: pembeli memesan dan membayar penuh atau uang muka.
  3. Penutupan: pesanan ditutup saat periode habis atau kuota terpenuhi. Kamu mengunci jumlah produksi.
  4. Produksi atau pengadaan: bahan dibeli, barang dibuat atau dipesan ke supplier. Pembeli diberi kabar berkala.
  5. Pengiriman: barang dikemas dan dikirim sesuai urutan pesanan, lalu pelunasan ditagih bila memakai uang muka.

Marketplace besar umumnya punya fitur pre-order dengan batas masa pengemasan yang lebih panjang dari produk biasa. Batas hari dan syaratnya berbeda tiap platform dan bisa berubah, jadi cek di pusat edukasi penjual sebelum memasang produk PO.

Bayar penuh atau uang muka?

Pilihan skema pembayaran berpengaruh besar ke arus kas dan rasa aman pembeli.

SkemaKelebihanKekuranganCocok untuk
Bayar penuh di depanModal produksi lengkap, administrasi sederhanaPembeli lebih ragu, terutama untuk toko baruToko yang sudah punya reputasi, produk harga terjangkau
Uang muka lalu pelunasanLebih ringan bagi pembeli, cocok untuk harga tinggiAda risiko pembeli tidak melunasi, perlu penagihanProduk custom, harga tinggi, pesanan grosir
Bayar saat barang siapPaling mudah diterima pembeliKamu menanggung seluruh modal dan risiko batalPelanggan lama yang sudah saling percaya

Untuk skema uang muka, tulis jelas apa yang terjadi bila pembeli tidak melunasi: apakah uang muka hangus, berapa batas waktunya, dan apakah barang dijual ke orang lain. Penagihan pelunasan bisa dibantu pengingat otomatis seperti dibahas di pengingat tagihan pelanggan lewat WhatsApp.

Risiko yang paling sering terjadi

  • Keterlambatan produksi. Supplier telat, bahan habis, atau penjahit sakit. Ini salah satu sumber komplain paling umum dalam PO, apalagi bila pembeli tidak diberi kabar.
  • Biaya meleset. Harga bahan naik setelah harga PO diumumkan, sehingga margin hilang. Hitung HPP dengan cadangan, seperti dijelaskan di cara menghitung HPP produk.
  • Kualitas tidak sesuai foto. Pembeli memesan dari foto sampel, lalu hasil produksi massal berbeda warna atau ukuran.
  • Uang PO terpakai untuk hal lain. Uang pembeli bercampur dengan kas harian dan terpakai sebelum produksi selesai. Ini risiko yang sering tidak disadari, padahal uang itu sebenarnya masih utang barang kepada pembeli.
  • Pesanan melebihi kapasitas. Kuota terlalu besar dibanding kemampuan produksi, sehingga semua pesanan ikut terlambat.

Cara menjalankan PO yang membuat pembeli percaya

Umumkan informasi lengkap sejak awal

Tulis periode pemesanan, kuota, perkiraan tanggal kirim, skema pembayaran, dan aturan pembatalan di satu tempat yang mudah ditemukan. Hindari tanggal kirim yang terlalu optimistis. Lebih baik memberi rentang yang aman lalu mengirim lebih cepat, daripada menjanjikan tanggal pasti lalu molor.

Tetapkan kuota sesuai kapasitas nyata

Hitung kapasitas produksi per minggu, termasuk waktu untuk pengecekan kualitas dan pengemasan. Kuota diambil dari angka itu, bukan dari target omzet. Sisakan juga ruang untuk barang cacat produksi yang harus dibuat ulang, karena hampir setiap produksi massal menghasilkan beberapa unit yang tidak lolos pengecekan. Kalau PO ternyata laris dan kuota cepat habis, buka gelombang berikutnya dengan tanggal kirim yang lebih belakang, bukan menambah kuota gelombang yang sedang berjalan.

Beri kabar berkala

Kirim pembaruan di titik penting: pesanan ditutup, bahan datang, produksi berjalan, barang siap kirim. Foto proses produksi sangat membantu. Pembeli yang mendapat kabar rutin jauh lebih sabar menghadapi keterlambatan kecil.

Siapkan rencana kalau terlambat

Kalau keterlambatan tidak terhindarkan, kabari pembeli sebelum tanggal janji terlewat. Sampaikan alasan, perkiraan baru, dan pilihan yang mereka punya: menunggu, atau membatalkan dengan pengembalian dana penuh. Pasal 16 UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen melarang pelaku usaha yang menawarkan barang melalui pesanan untuk tidak menepati pesanan atau waktu penyelesaian yang dijanjikan. Karena itu, menawarkan pengembalian dana bukan sekadar sopan santun, melainkan langkah yang adil dan melindungi tokomu sendiri.

Catat setiap pesanan dengan rapi

Satu daftar berisi nama, varian, jumlah, status pembayaran, dan status kirim. Daftar ini menjadi dasar produksi, penagihan pelunasan, dan pengiriman berurutan. Untuk PO yang rutin, formulir pemesanan di website membuat data ini terkumpul otomatis dan mengurangi salah catat dari chat.

Kapan sebaiknya tidak memakai pre-order?

PO kurang cocok untuk produk yang dibutuhkan segera, seperti hadiah dengan tanggal tertentu, atau saat kamu belum pernah memproduksi produk itu sama sekali. Untuk produk baru, buat sampel dan produksi kecil dulu sampai kualitas dan waktunya terukur. Setelah itu, PO menjadi alat yang aman untuk menambah skala.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah boleh mengubah harga setelah pre-order dibuka?

Untuk pesanan yang sudah dibayar, harga sebaiknya tidak diubah karena sudah menjadi kesepakatan. Kalau biaya naik, tanggung selisihnya untuk periode itu dan sesuaikan harga di periode PO berikutnya.

Bagaimana kalau pembeli ingin membatalkan di tengah produksi?

Itu bergantung pada aturan yang kamu umumkan di awal. Banyak toko membolehkan pembatalan sebelum produksi dimulai dan membatasi setelahnya. Yang penting aturan itu tertulis dan disetujui pembeli saat memesan.

Apakah PO di luar marketplace aman bagi pembeli?

Pembeli tidak mendapat perlindungan dana dari platform, sehingga reputasi dan transparansi tokomu menjadi penentu. Untuk pembeli baru, menawarkan PO lewat marketplace bisa terasa lebih aman bagi mereka.

Sumber & referensi

Baca juga